Sabtu, 24 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
canakkalebigafirmalari.comcanakkalebigafirmalari.com
canakkalebigafirmalari.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Katanya Anak Butuh Ibu, tapi Ayah Juga, Kan?" Jawa...

Katanya Anak Butuh Ibu, tapi Ayah Juga, Kan?" Jawaban buat Orang Tua Baru

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua baru soal peran ayah-ibu dan cara mengasuh anak, dijawab santai tanpa teori muluk.

Katanya Anak Butuh Ibu, tapi Ayah Juga, Kan?" Jawaban buat Orang Tua Baru

Beberapa minggu setelah anak pertama lahir, gue ingat banget duduk di ruang tamu sambil ngobrol sama kakak gue yang udah punya dua anak. Dia nanya satu hal yang bikin gue mikir lama: "Lo sama pasangan udah bagi tugas belum? Jangan-jangan lo ngerasa semua soal anak itu tanggung jawab istri."

Jujur aja, waktu itu gue belum kepikiran sejauh itu. Bayi baru lahir, semua orang sibuk, semua orang capek. Tapi pertanyaan itu nempel terus di kepala gue. Dan ternyata, dari ngobrol sama puluhan teman yang baru jadi orang tua, ada beberapa pertanyaan yang polanya selalu sama. Jadi artikel ini gue tulis sebagai jawaban buat kamu yang mungkin lagi nanya hal yang sama.

"Ayah kan cuma bantu-bantu, beneran cuma segitu perannya?"

Ini pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya tegas: enggak. Peran ayah bukan "bantuan tambahan" buat ibu. Kalau kamu masih mikir bahwa mengasuh anak itu tugas utama ibu dan ayah cuma bantu kalau sempat, pola pikir itu yang perlu dibongkar duluan.

Baca juga: Ibu Rumah Tangga Sering Khilaf: 5 Pola Asuh yang Diam-Diam Merusak Anak

Anak nggak butuh ayah yang sesekali muncul sebagai pahlawan penyelamat. Anak butuh ayah yang hadir rutin — yang tahu jadwal mandi, tahu anaknya suka makanan apa, tahu cara nenangin kalau rewel tengah malam. Kehadiran yang konsisten itu yang membangun rasa aman, bukan momen heroik sesekali.

Anak nggak menghitung berapa banyak hadiah yang kamu beli. Mereka mengingat siapa yang ada saat mereka butuh.

Gue sendiri baru sadar hal ini waktu anak gue rewel dan gue nggak tahu harus ngapain. Rasanya kayak jadi orang asing di rumah sendiri. Sejak itu gue mulai ikut semua rutinitas, bukan cuma yang gampang.

"Kalau cara ngasuh gue beda sama pasangan, berarti salah satu dari kita salah?"

Nggak juga. Ini pertanyaan kedua yang paling sering ditanyakan, dan sering bikin konflik kecil yang lama-lama numpuk. Kamu mungkin tipe yang santai soal jadwal tidur, pasangan kamu tipe yang super teratur. Dua-duanya belum tentu salah.

Yang berbahaya bukan perbedaannya, tapi kalau perbedaan itu dibiarkan jadi perdebatan di depan anak. Anak kecil itu peniru ulung. Kalau mereka lihat orang tuanya saling menyalahkan soal cara ngasuh, yang mereka pelajari bukan aturannya, tapi bahwa rumah adalah tempat orang berdebat.

Cara sederhana yang gue coba di rumah

  • Sepakati hal besar, fleksibelkan hal kecil. Soal nilai, keamanan, dan batasan penting, kalian harus satu suara. Soal merek susu atau warna baju, nggak perlu debat panjang.
  • Bahas di belakang anak, bukan di depan. Kalau ada yang nggak cocok, omongin berdua setelah anak tidur. Bukan saat anak lagi nonton sambil dengerin.
  • Jangan pakai anak sebagai wasit. Kalimat "tuh, kata ayah boleh" atau "mama bilang nggak boleh" itu racun kecil yang lama-lama bikin anak pintar mencari celah.

Gue dan pasangan sempat punya aturan nggak tertulis: kalau salah satu lagi ngasih konsekuensi ke anak, yang lain nggak boleh langsung intervensi di depan anak. Boleh bahas nanti. Awalnya canggung, tapi lama-lama jadi kebiasaan yang bikin rumah lebih tenang.

"Anak baru lahir, kok rasanya hubungan sama pasangan jadi jauh?"

Ini yang paling jarang ditanyakan orang, padahal paling sering dirasakan. Setelah bayi lahir, energi habis buat bayi. Ngobrol pun isinya soal popok, susu, dan jadwal tidur. Tiba-tiba kalian berasa kayak rekan kerja yang kebetulan tinggal serumah.

Gue nggak mau kasih jawaban manis-manis soal "cinta akan menemukan jalannya sendiri". Menurut gue, hubungan itu perlu dirawat dengan sengaja, bukan dibiarkan mengalir. Dan itu susah, apalagi kalau kamu kurang tidur.

Tapi hal kecil bisa nolong. Bikin kopi buat pasangan tanpa diminta. Ucapin terima kasih untuk hal yang udah jadi rutinitas. Sempatkan ngobrol lima menit tanpa bahas anak. Kedengarannya sepele, tapi dari pengalaman gue, hal-hal kecil inilah yang menjaga dua orang tetap terhubung saat semuanya lagi kacau.

"Jadi, apa hal paling penting yang harus orang tua baru tahu?"

Kalau harus pilih satu, gue bakal bilang: bangun kebiasaan komunikasi sejak awal. Bukan cuma soal ngobrol, tapi soal berani bilang "gue capek" dan "gue butuh bantuan" tanpa rasa bersalah.

Banyak orang tua baru, terutama ibu, ngerasa harus kuat terus. Padahal mengasuh anak itu kerja tim. Kalau satu orang kelelahan dan nggak ngomong, yang lain nggak akan tahu. Ujung-ujungnya yang kena adalah anak — bukan karena kurang cinta, tapi karena orang tuanya kehabisan tenaga dan nggak saling jaga.

Gue nggak akan bilang gue udah jago. Masih sering salah, masih sering salah paham sama pasangan. Tapi satu hal yang gue yakin: anak tumbuh paling baik bukan di rumah yang sempurna, tapi di rumah di mana orang tuanya saling mendukung dan nggak takut ngaku kalau lagi kewalahan.

Jadi kalau kamu lagi baca ini sambil nahan kantuk dan nanya "apakah gue cukup baik?", jawabannya: kamu cukup, asal kamu nggak jalan sendirian.

Tags: orang tua baru pola asuh peran ayah hubungan keluarga parenting